Bumiayu, Kampung halamanku!

Archive for Januari 2005


Foto sewaktu liburan ke Puncak bareng temen-temen kerja Persero Virama Karya
Firmansyah Afandi

Iklan

Lafal Allah di atas Gelombang Tsunami Aceh
Hasil foto satelit memperlihatkan riak-riak gelombang Tsunami di Sri Lanka mirip tulisan kaligrafi “Allah”. Ulama setempat meyakini, tulisan itu adalah pesan Allah pada yang masih hidup atas kekuasaaNya

Hidayatullah.com–Tuhan telah menandatangani Nama nya dalam musibah Tsunami. Itulah tanda-tanda yang diberikan Tuhan untuk memperingatkan hukumnya yang banyak diabaikan manusia, begitu petik seorang ulama Sri Lanka, Mohamed Faizeen yang juga Manager of the Center for Islamic Studies di Colombo. Faizeen memberikan pernyataan itu setelah sebuah dokumen foto satelit yang menunjukkan gelombang Tsunami saat menerjang kawan itu, 26 Desember 2004 lalu.

Foto satleit itu, memperlihatkan riak-riak gelombang dasyat Tsnami yang mirip tulisan kaligrafi Allah.

Tulisan mirip lafal Allah di riak-riak gelombang yang telah ditangkap foto satelit itu menurut Mohamed Faizeen diambil saat gelombang Tsunami menabrak Sri Lanka barat dan mendekati kota Kalutara. “Ini dengan sangat jelas menerangkan asma ‘Allah’ dalam tulisan Arab,” ujar Faizeen.

Faizeen menambahkan, guratan riak-riak gelombang yang melingkar itu, dari kejauhan -seperti ditangkap satelit itu– mirip tulisan lafal “Allah”. Foto tersebut didapatkan setelah perusahaan jasa satelit, DigitalGlobe Quickbird menunjukkan beberapa hasil foto pantauan udara yang diambil tanggal 26 Desember 2004, saat musibah berlangsung. Untuk lebih jelasnya, foto bisa dilihat di Website http://Globalsecurity.Org/Eye/Andaman-Sri-Lanka.Htm.

“Allah telah menandatangani Nama nya,” ujar Faizeen. “Ia telah mengirimnya sebagai bukti atas hukuman. Ini datang dari pengabaian Hukum nya.” Faizeen menyamakan pesan Tsunami ini seperti hukuman Nabi Nuh atas kaumnya yang tidak taat.

Namun, keyakinan seperti itu tak hanya pada Faizeen. Beberapa kalangan Kristen setempat mengakuinya. Seorang wisatawan asing di desa Ulvae, Sri Lanka Timur mengaku, beberapa hari sebelum gelombang datang, dirinya bermimpi selama tiga hari berturut-turut di kota itu telah terjadi banjir dengan ombak sangat besar datang.

“Ia memperingatkan orang desa tetapi mereka menertawakannya. Ia meninggalkan Ulvae pada pagi Minggu itu , 15 menit sebelum Tsunami menyerang,” ujar Faizeen.

Faizeen juga menceritakan, dirinya telah mengunjungi sebuah desa yang sebagaian penduduknya orang Islam di Ulvae, dekat kota utama Batticaloa, dan menemukan, bahwa ada sebuah madrasah (sekolah Islam) yang tak disentuh air sama sekali. Padahal, di dekat sekolah itu, sekitar 400 rumah penduduk telah diratakan dengan. Kebanyakan penduduknya telah hilang dan meninggal.

Garis pantai dari beberapa negara Asia yang dipukul ombak -termasuk Indonesia– telah menjadi tempat bermain untuk orang asing -khususnya Barat-juga orang Islam untuk menyalurkan sifat buruknya, ujar Faizeen. Diantaranya, pantai-pantai itu digunakan sebagai tempat mesum, pelacuran dan mabuk-mabukan.

“Allah akan mengirimkan hukuman kecil pertamanya -seperti hilangnya bisnis. Tapi jika kita mengabaikan peringatan itu, Ia akan mengirimkan beberapa lagi yang lebih besar- misalnya, hilangnya kehidupan. Jika kita masih mengabaikan peringatan itu, hukuman besar akan datang, seperti gempabumi dan Tsunami.”

Faizeen mengatakan, area Sri Lanka dan juga Indonesia –yang sebagian besar yang didiami oleh warga muslim– telah mendapatkan pukulan paling keras Tsunami.

Muhammed Fawmey, Pemimpin the International Islamic Youth Front mengatakan, ia sangat meyakini, Tsunami itu benar-benar pesan yang dikirim Allah. “Ia dengan sangat jelas menandatangani Nama-nya di dalam ombak itu,” ujar Fawmey menanggapi hasil foto satelit tulisan asma Allah dalam riak gelombang Tsunami yang ditangkap DigitalGlobe Quickbird.

Kebanyakan orang Islam di seluruh dunia yakin, gelombang Tsunami yang terjadi 26 Desember lalu adalah sebuah peringatan Allah atas berbagai keteledoran manusia pada Nya. Tetapi, para ilmuwan, bagaimanapun masih tetap mengandalkan akalnya. Alasan yang sering dikemukakan, biasanya, Tsunami terjadi karena ada gempabumi dibawah permukaan laut di Sumatra Utara, di atas 9.0 skala Richter.

Di Aceh, ada puluhan masjid yang tak hancur dan tidak ikut terseret Tsunami. Sebagian masjid, bahkan tak ada satupun rusak dinding atau lantainya, meskipun gedung-gedung kokoh di sebelahnya rata dengan tanah. Namun, hingga kini belum ada satupun ilmuwan bidang kontruksi yang bisa menjelaskan mengapa masjid-masjid ini bisa tetap kokoh. (chinapost.com.tw/cha)

Firmansyah Afandi

Lafal Allah di atas Gelombang Tsunami Aceh

Hasil foto satelit memperlihatkan riak-riak gelombang Tsunami di Sri Lanka mirip tulisan kaligrafi “Allah”. Ulama setempat meyakini, tulisan itu adalah pesan Allah pada yang masih hidup atas kekuasaaNya

Hidayatullah.com–Tuhan telah menandatangani Nama nya dalam musibah Tsunami. Itulah tanda-tanda yang diberikan Tuhan untuk memperingatkan hukumnya yang banyak diabaikan manusia, begitu petik seorang ulama Sri Lanka, Mohamed Faizeen yang juga Manager of the Center for Islamic Studies di Colombo. Faizeen memberikan pernyataan itu setelah sebuah dokumen foto satelit yang menunjukkan gelombang Tsunami saat menerjang kawan itu, 26 Desember 2004 lalu.

Foto satleit itu, memperlihatkan riak-riak gelombang dasyat Tsnami yang mirip tulisan kaligrafi Allah.

Tulisan mirip lafal Allah di riak-riak gelombang yang telah ditangkap foto satelit itu menurut Mohamed Faizeen diambil saat gelombang Tsunami menabrak Sri Lanka barat dan mendekati kota Kalutara. “Ini dengan sangat jelas menerangkan asma ‘Allah’ dalam tulisan Arab,” ujar Faizeen.

Faizeen menambahkan, guratan riak-riak gelombang yang melingkar itu, dari kejauhan -seperti ditangkap satelit itu– mirip tulisan lafal “Allah”. Foto tersebut didapatkan setelah perusahaan jasa satelit, DigitalGlobe Quickbird menunjukkan beberapa hasil foto pantauan udara yang diambil tanggal 26 Desember 2004, saat musibah berlangsung. Untuk lebih jelasnya, foto bisa dilihat di Website http://Globalsecurity.Org/Eye/Andaman-Sri-Lanka.Htm.

“Allah telah menandatangani Nama nya,” ujar Faizeen. “Ia telah mengirimnya sebagai bukti atas hukuman. Ini datang dari pengabaian Hukum nya.” Faizeen menyamakan pesan Tsunami ini seperti hukuman Nabi Nuh atas kaumnya yang tidak taat.

Namun, keyakinan seperti itu tak hanya pada Faizeen. Beberapa kalangan Kristen setempat mengakuinya. Seorang wisatawan asing di desa Ulvae, Sri Lanka Timur mengaku, beberapa hari sebelum gelombang datang, dirinya bermimpi selama tiga hari berturut-turut di kota itu telah terjadi banjir dengan ombak sangat besar datang.

“Ia memperingatkan orang desa tetapi mereka menertawakannya. Ia meninggalkan Ulvae pada pagi Minggu itu , 15 menit sebelum Tsunami menyerang,” ujar Faizeen.

Faizeen juga menceritakan, dirinya telah mengunjungi sebuah desa yang sebagaian penduduknya orang Islam di Ulvae, dekat kota utama Batticaloa, dan menemukan, bahwa ada sebuah madrasah (sekolah Islam) yang tak disentuh air sama sekali. Padahal, di dekat sekolah itu, sekitar 400 rumah penduduk telah diratakan dengan. Kebanyakan penduduknya telah hilang dan meninggal.

Garis pantai dari beberapa negara Asia yang dipukul ombak -termasuk Indonesia– telah menjadi tempat bermain untuk orang asing -khususnya Barat-juga orang Islam untuk menyalurkan sifat buruknya, ujar Faizeen. Diantaranya, pantai-pantai itu digunakan sebagai tempat mesum, pelacuran dan mabuk-mabukan.

“Allah akan mengirimkan hukuman kecil pertamanya -seperti hilangnya bisnis. Tapi jika kita mengabaikan peringatan itu, Ia akan mengirimkan beberapa lagi yang lebih besar- misalnya, hilangnya kehidupan. Jika kita masih mengabaikan peringatan itu, hukuman besar akan datang, seperti gempabumi dan Tsunami.”

Faizeen mengatakan, area Sri Lanka dan juga Indonesia –yang sebagian besar yang didiami oleh warga muslim– telah mendapatkan pukulan paling keras Tsunami.

Muhammed Fawmey, Pemimpin the International Islamic Youth Front mengatakan, ia sangat meyakini, Tsunami itu benar-benar pesan yang dikirim Allah. “Ia dengan sangat jelas menandatangani Nama-nya di dalam ombak itu,” ujar Fawmey menanggapi hasil foto satelit tulisan asma Allah dalam riak gelombang Tsunami yang ditangkap DigitalGlobe Quickbird.

Kebanyakan orang Islam di seluruh dunia yakin, gelombang Tsunami yang terjadi 26 Desember lalu adalah sebuah peringatan Allah atas berbagai keteledoran manusia pada Nya. Tetapi, para ilmuwan, bagaimanapun masih tetap mengandalkan akalnya. Alasan yang sering dikemukakan, biasanya, Tsunami terjadi karena ada gempabumi dibawah permukaan laut di Sumatra Utara, di atas 9.0 skala Richter.

Di Aceh, ada puluhan masjid yang tak hancur dan tidak ikut terseret Tsunami. Sebagian masjid, bahkan tak ada satupun rusak dinding atau lantainya, meskipun gedung-gedung kokoh di sebelahnya rata dengan tanah. Namun, hingga kini belum ada satupun ilmuwan bidang kontruksi yang bisa menjelaskan mengapa masjid-masjid ini bisa tetap kokoh. (chinapost.com.tw/cha)

Firmansyah Afandi

Berdasarkan Penempatan kerjaku di Departemen Kehutanan yaitu Balai Litbang Hutan dan Tanaman Banjarbaru,Kalimantan Selatan maka saya menampilkan profile Kota Banjarbaru.
Thanks

Firmansyah afandi

Kota Banjarbaru

“MAU buka toko di Banjarbaru?” Kata-kata yang dilontarkan seorang rekan ternyata ada benarnya. Bangunan sepanjang Jalan Achmad Yani dari Bandara Syamsuddin Noor ke jantung pemerintahan Kota Banjarbaru hampir semuanya dijadikan tempat usaha atau perkantoran. Ruko, rumah yang merangkap toko, tumbuh di kiri dan kanan jalan sepanjang 12 kilometer tersebut.

SANGAT terasa Banjarbaru sedang menggeliat. Gairah membangun tidak hanya terlihat di jantung ibu kota. Sebanyak 24 pengembang perumahan ikut berkiprah di tiga kecamatan yang ada. Dari tangan-tangan mereka bermunculan ruko, rumah-rumah mewah, sedang, maupun yang sangat sederhana.

Citra Banjarbaru sebagai tempat permukiman yang ideal sudah lama diketahui. Dari wilayah 37.130 hektar, 353 hektar berbentuk rawa-rawa, selebihnya tanah padat yang cocok untuk perkantoran dan perumahan. Hingga tahun 2002 areal yang terpakai untuk bangunan dan halaman 8.005 hektar.

Data di atas pasti tidak bisa dipegang lagi. Mengingat, dari kurun waktu Mei 2002 hingga Juli 2003 para pengembang mengajukan 598 Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Di luar mereka, dari Januari sampai Juli 2003 ada 222 IMB yang diajukan penduduk. Berdasarkan data dinas tata kota Banjarbaru sampai bulan Juni 2003 terdapat 22.500 rumah hunian.

Pertumbuhan perumahan per tahun dari tahun 2000 hingga pertengahan 2003 sebesar 6,1 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan sensus tahun 2000 tercatat sekitar 123.979 jiwa yang berdomisili di Banjarbaru. Sementara dari hasil Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B) pertengahan tahun 2003 meningkat menjadi 140.150 jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun 3,8 persen. Tidak salah kalau Banjarbaru diberi predikat Kota Permukiman.

Keberadaan Fakultas Kedokteran, Perikanan, Pertanian, Teknik, Kehutanan, Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) di Banjarbaru menjadi daya tarik. Unlam sendiri pusatnya di Banjarmasin. Perguruan tinggi swasta pun bermunculan. Paling tidak terdapat sembilan perguruan tinggi swasta ikut memberikan andil sebutan Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan.

Jaraknya yang hanya 35 kilometer dari ibu kota Provinsi Kalsel, Banjarmasin, dan dua kilometer dari kota permata Martapura, yang namanya mendunia membuat Banjarbaru menjadi sangat strategis. Bahkan jauh sebelumnya saat almarhum dr Murdjani menjabat Gubernur Kalimantan (Kalimantan masih satu provinsi) tahun 1950-1953, sudah mengimpikan wilayah ini sebagai ibu kota Kalimantan.

Kini, wajah wilayah ini mulai menunjukkan daya tariknya. Ketika matahari tidak lagi menyinari bumi, cahaya lampu berwarna-warni menerangi lingkungan sekitarnya. Lampu dengan pesan-pesan sponsor dari aneka produk menjadi bukti bahwa pengusaha sudah menjadikan kota di antara Banjarmasin dan Martapura ini sebagai ajang perdagangan.

Lajunya perkembangan wilayah ini mempunyai efek seperti bola salju. Bertambahnya permukiman dan penduduk memperbesar permintan barang-barang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekunder. Jasa konstruksi dan keuangan jelas ikut memegang peranan penting dalam membangun Banjarbaru.

Meningkatnya permintaan akan barang kebutuhan dan jasa membuka peluang tumbuh unit usaha. Kalau tahun 2000 terdapat 365 unit usaha, tahun berikutnya 373 buah, tahun 2002 meningkat 16 persen menjadi 432 unit usaha. Pertambahan ini membuka lapangan kerja. Tahun 2000 tenaga kerja yang terserap 3.950 orang, kemudian 4.033 orang, dan tahun 2002 tercatat 4.469 orang.

Perdagangan besar dan eceran merupakan penyumbang terbesar perekonomian Banjarbaru. Selama tahun 2000-2002 kontribusinya melebihi 21 persen total perekonomian. Tahun 2002 tercatat Rp 146 miliar, sekitar 21 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banjarbaru. Sektor bangunan menyumbang 13,8 persen.

Gerak roda perdagangan wilayah ini juga berhubungan erat dengan komoditas hasil industri pengolahan. Komoditas unggulan industri olahan di Banjarbaru antara lain: rotan, kayu, marmer, minuman ringan, biskuit, dan barang logam. Investasi yang ditanam tahun 2002 Rp 32 miliar dengan nilai produksi Rp 112 miliar. Bahan baku komoditas tersebut sebagian besar didatangkan dari Kalimantan Tengah seperti rotan dan kayu. Sedangkan marmer dari Kabupaten Tapin.

Hasil industri olahan tersebut laku dijual di dalam negeri dan diminati pasar luar negeri. Komoditas yang menembus pasar mancanegara adalah rotan dalam bentuk lampit (semacam tikar), marmer, moulding, dan kayu bengkirai. Negara-negara tujuan ekspor lampit adalah Jepang, Korea, Belanda, Malysia, Taiwan. Sedangkan marmer dikirim ke Australia dan Malysia. Kayu bengkirai dan moulding diminati Australia, Malaysia, dan Cina.

Pembangunan Banjarbaru terus melaju. Untuk pengembangan ekonomi, pemerintah kota menyediakan kawasan industri di Liang Anggang, Kecamatan Landasan Ulin yang terbuka bagi pemodal dalam maupun luar negeri. Di tempat yang sama akan dibangun pusat grosir dan peti kemas. Kini pemerintah kota membuka jalan lingkar selatan, Jalan Trikora, yang menyambung wilayah Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin. Jalan ini akan menjadi akses utama menuju pelabuhan sungai Trisakti di Banjarmasin.

Hingga kini wilayah yang pendapatan asli daerah tahun 2002 sebesar Rp 4,2 miliar dan PDRB per kapita Rp 5,2 juta, belum mempunyai hotel yang mampu memberi pelayanan memadai. Padahal, dari Bandara Syamsuddin Noor di Kecamatan Landasan Ulin setiap hari datang dan pergi sekitar 10 pesawat terbang. Tahun 2002 penumpang yang datang sebanyak 238.504 orang dan yang pergi 245.635 orang.

Bagi Banjarbaru, yang bertekad menjadikan sektor jasa perdagangan sebagai salah satu pilar perekonomian, keberadaan akomodasi yang sepadan kiranya perlu mendapat perhatian. Akankah Banjarbaru hanya dijadikan tempat lewat ataukah Banjarbaru juga bisa dijadikan tempat melewatkan hari? Banjarbaru sendiri yang bisa menjawab.

FX Sriyadi Adhisumarta/Litbang KompasKota Banjarbaru

“MAU buka toko di Banjarbaru?” Kata-kata yang dilontarkan seorang rekan ternyata ada benarnya. Bangunan sepanjang Jalan Achmad Yani dari Bandara Syamsuddin Noor ke jantung pemerintahan Kota Banjarbaru hampir semuanya dijadikan tempat usaha atau perkantoran. Ruko, rumah yang merangkap toko, tumbuh di kiri dan kanan jalan sepanjang 12 kilometer tersebut.

SANGAT terasa Banjarbaru sedang menggeliat. Gairah membangun tidak hanya terlihat di jantung ibu kota. Sebanyak 24 pengembang perumahan ikut berkiprah di tiga kecamatan yang ada. Dari tangan-tangan mereka bermunculan ruko, rumah-rumah mewah, sedang, maupun yang sangat sederhana.

Citra Banjarbaru sebagai tempat permukiman yang ideal sudah lama diketahui. Dari wilayah 37.130 hektar, 353 hektar berbentuk rawa-rawa, selebihnya tanah padat yang cocok untuk perkantoran dan perumahan. Hingga tahun 2002 areal yang terpakai untuk bangunan dan halaman 8.005 hektar.

Data di atas pasti tidak bisa dipegang lagi. Mengingat, dari kurun waktu Mei 2002 hingga Juli 2003 para pengembang mengajukan 598 Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Di luar mereka, dari Januari sampai Juli 2003 ada 222 IMB yang diajukan penduduk. Berdasarkan data dinas tata kota Banjarbaru sampai bulan Juni 2003 terdapat 22.500 rumah hunian.

Pertumbuhan perumahan per tahun dari tahun 2000 hingga pertengahan 2003 sebesar 6,1 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan sensus tahun 2000 tercatat sekitar 123.979 jiwa yang berdomisili di Banjarbaru. Sementara dari hasil Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B) pertengahan tahun 2003 meningkat menjadi 140.150 jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun 3,8 persen. Tidak salah kalau Banjarbaru diberi predikat Kota Permukiman.

Keberadaan Fakultas Kedokteran, Perikanan, Pertanian, Teknik, Kehutanan, Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) di Banjarbaru menjadi daya tarik. Unlam sendiri pusatnya di Banjarmasin. Perguruan tinggi swasta pun bermunculan. Paling tidak terdapat sembilan perguruan tinggi swasta ikut memberikan andil sebutan Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan.

Jaraknya yang hanya 35 kilometer dari ibu kota Provinsi Kalsel, Banjarmasin, dan dua kilometer dari kota permata Martapura, yang namanya mendunia membuat Banjarbaru menjadi sangat strategis. Bahkan jauh sebelumnya saat almarhum dr Murdjani menjabat Gubernur Kalimantan (Kalimantan masih satu provinsi) tahun 1950-1953, sudah mengimpikan wilayah ini sebagai ibu kota Kalimantan.

Kini, wajah wilayah ini mulai menunjukkan daya tariknya. Ketika matahari tidak lagi menyinari bumi, cahaya lampu berwarna-warni menerangi lingkungan sekitarnya. Lampu dengan pesan-pesan sponsor dari aneka produk menjadi bukti bahwa pengusaha sudah menjadikan kota di antara Banjarmasin dan Martapura ini sebagai ajang perdagangan.

Lajunya perkembangan wilayah ini mempunyai efek seperti bola salju. Bertambahnya permukiman dan penduduk memperbesar permintan barang-barang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekunder. Jasa konstruksi dan keuangan jelas ikut memegang peranan penting dalam membangun Banjarbaru.

Meningkatnya permintaan akan barang kebutuhan dan jasa membuka peluang tumbuh unit usaha. Kalau tahun 2000 terdapat 365 unit usaha, tahun berikutnya 373 buah, tahun 2002 meningkat 16 persen menjadi 432 unit usaha. Pertambahan ini membuka lapangan kerja. Tahun 2000 tenaga kerja yang terserap 3.950 orang, kemudian 4.033 orang, dan tahun 2002 tercatat 4.469 orang.

Perdagangan besar dan eceran merupakan penyumbang terbesar perekonomian Banjarbaru. Selama tahun 2000-2002 kontribusinya melebihi 21 persen total perekonomian. Tahun 2002 tercatat Rp 146 miliar, sekitar 21 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banjarbaru. Sektor bangunan menyumbang 13,8 persen.

Gerak roda perdagangan wilayah ini juga berhubungan erat dengan komoditas hasil industri pengolahan. Komoditas unggulan industri olahan di Banjarbaru antara lain: rotan, kayu, marmer, minuman ringan, biskuit, dan barang logam. Investasi yang ditanam tahun 2002 Rp 32 miliar dengan nilai produksi Rp 112 miliar. Bahan baku komoditas tersebut sebagian besar didatangkan dari Kalimantan Tengah seperti rotan dan kayu. Sedangkan marmer dari Kabupaten Tapin.

Hasil industri olahan tersebut laku dijual di dalam negeri dan diminati pasar luar negeri. Komoditas yang menembus pasar mancanegara adalah rotan dalam bentuk lampit (semacam tikar), marmer, moulding, dan kayu bengkirai. Negara-negara tujuan ekspor lampit adalah Jepang, Korea, Belanda, Malysia, Taiwan. Sedangkan marmer dikirim ke Australia dan Malysia. Kayu bengkirai dan moulding diminati Australia, Malaysia, dan Cina.

Pembangunan Banjarbaru terus melaju. Untuk pengembangan ekonomi, pemerintah kota menyediakan kawasan industri di Liang Anggang, Kecamatan Landasan Ulin yang terbuka bagi pemodal dalam maupun luar negeri. Di tempat yang sama akan dibangun pusat grosir dan peti kemas. Kini pemerintah kota membuka jalan lingkar selatan, Jalan Trikora, yang menyambung wilayah Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin. Jalan ini akan menjadi akses utama menuju pelabuhan sungai Trisakti di Banjarmasin.

Hingga kini wilayah yang pendapatan asli daerah tahun 2002 sebesar Rp 4,2 miliar dan PDRB per kapita Rp 5,2 juta, belum mempunyai hotel yang mampu memberi pelayanan memadai. Padahal, dari Bandara Syamsuddin Noor di Kecamatan Landasan Ulin setiap hari datang dan pergi sekitar 10 pesawat terbang. Tahun 2002 penumpang yang datang sebanyak 238.504 orang dan yang pergi 245.635 orang.

Bagi Banjarbaru, yang bertekad menjadikan sektor jasa perdagangan sebagai salah satu pilar perekonomian, keberadaan akomodasi yang sepadan kiranya perlu mendapat perhatian. Akankah Banjarbaru hanya dijadikan tempat lewat ataukah Banjarbaru juga bisa dijadikan tempat melewatkan hari? Banjarbaru sendiri yang bisa menjawab.

FX Sriyadi Adhisumarta/Litbang Kompas

Diambil dari http://kompas.com/kompas-cetak/0309/11/otonomi/552181.htm

Berdasarkan Penempatan kerjaku di Departemen Kehutanan yaitu Balai Litbang Hutan dan Tanaman Banjarbaru,Kalimantan Selatan maka saya menampilkan profile Kota Banjarbaru.

Thanks

Firmansyah afandi

Kota Banjarbaru

“MAU buka toko di Banjarbaru?” Kata-kata yang dilontarkan seorang rekan ternyata ada benarnya. Bangunan sepanjang Jalan Achmad Yani dari Bandara Syamsuddin Noor ke jantung pemerintahan Kota Banjarbaru hampir semuanya dijadikan tempat usaha atau perkantoran. Ruko, rumah yang merangkap toko, tumbuh di kiri dan kanan jalan sepanjang 12 kilometer tersebut.

SANGAT terasa Banjarbaru sedang menggeliat. Gairah membangun tidak hanya terlihat di jantung ibu kota. Sebanyak 24 pengembang perumahan ikut berkiprah di tiga kecamatan yang ada. Dari tangan-tangan mereka bermunculan ruko, rumah-rumah mewah, sedang, maupun yang sangat sederhana.

Citra Banjarbaru sebagai tempat permukiman yang ideal sudah lama diketahui. Dari wilayah 37.130 hektar, 353 hektar berbentuk rawa-rawa, selebihnya tanah padat yang cocok untuk perkantoran dan perumahan. Hingga tahun 2002 areal yang terpakai untuk bangunan dan halaman 8.005 hektar.

Data di atas pasti tidak bisa dipegang lagi. Mengingat, dari kurun waktu Mei 2002 hingga Juli 2003 para pengembang mengajukan 598 Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Di luar mereka, dari Januari sampai Juli 2003 ada 222 IMB yang diajukan penduduk. Berdasarkan data dinas tata kota Banjarbaru sampai bulan Juni 2003 terdapat 22.500 rumah hunian.

Pertumbuhan perumahan per tahun dari tahun 2000 hingga pertengahan 2003 sebesar 6,1 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan sensus tahun 2000 tercatat sekitar 123.979 jiwa yang berdomisili di Banjarbaru. Sementara dari hasil Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B) pertengahan tahun 2003 meningkat menjadi 140.150 jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun 3,8 persen. Tidak salah kalau Banjarbaru diberi predikat Kota Permukiman.

Keberadaan Fakultas Kedokteran, Perikanan, Pertanian, Teknik, Kehutanan, Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) di Banjarbaru menjadi daya tarik. Unlam sendiri pusatnya di Banjarmasin. Perguruan tinggi swasta pun bermunculan. Paling tidak terdapat sembilan perguruan tinggi swasta ikut memberikan andil sebutan Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan.

Jaraknya yang hanya 35 kilometer dari ibu kota Provinsi Kalsel, Banjarmasin, dan dua kilometer dari kota permata Martapura, yang namanya mendunia membuat Banjarbaru menjadi sangat strategis. Bahkan jauh sebelumnya saat almarhum dr Murdjani menjabat Gubernur Kalimantan (Kalimantan masih satu provinsi) tahun 1950-1953, sudah mengimpikan wilayah ini sebagai ibu kota Kalimantan.

Kini, wajah wilayah ini mulai menunjukkan daya tariknya. Ketika matahari tidak lagi menyinari bumi, cahaya lampu berwarna-warni menerangi lingkungan sekitarnya. Lampu dengan pesan-pesan sponsor dari aneka produk menjadi bukti bahwa pengusaha sudah menjadikan kota di antara Banjarmasin dan Martapura ini sebagai ajang perdagangan.

Lajunya perkembangan wilayah ini mempunyai efek seperti bola salju. Bertambahnya permukiman dan penduduk memperbesar permintan barang-barang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekunder. Jasa konstruksi dan keuangan jelas ikut memegang peranan penting dalam membangun Banjarbaru.

Meningkatnya permintaan akan barang kebutuhan dan jasa membuka peluang tumbuh unit usaha. Kalau tahun 2000 terdapat 365 unit usaha, tahun berikutnya 373 buah, tahun 2002 meningkat 16 persen menjadi 432 unit usaha. Pertambahan ini membuka lapangan kerja. Tahun 2000 tenaga kerja yang terserap 3.950 orang, kemudian 4.033 orang, dan tahun 2002 tercatat 4.469 orang.

Perdagangan besar dan eceran merupakan penyumbang terbesar perekonomian Banjarbaru. Selama tahun 2000-2002 kontribusinya melebihi 21 persen total perekonomian. Tahun 2002 tercatat Rp 146 miliar, sekitar 21 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banjarbaru. Sektor bangunan menyumbang 13,8 persen.

Gerak roda perdagangan wilayah ini juga berhubungan erat dengan komoditas hasil industri pengolahan. Komoditas unggulan industri olahan di Banjarbaru antara lain: rotan, kayu, marmer, minuman ringan, biskuit, dan barang logam. Investasi yang ditanam tahun 2002 Rp 32 miliar dengan nilai produksi Rp 112 miliar. Bahan baku komoditas tersebut sebagian besar didatangkan dari Kalimantan Tengah seperti rotan dan kayu. Sedangkan marmer dari Kabupaten Tapin.

Hasil industri olahan tersebut laku dijual di dalam negeri dan diminati pasar luar negeri. Komoditas yang menembus pasar mancanegara adalah rotan dalam bentuk lampit (semacam tikar), marmer, moulding, dan kayu bengkirai. Negara-negara tujuan ekspor lampit adalah Jepang, Korea, Belanda, Malysia, Taiwan. Sedangkan marmer dikirim ke Australia dan Malysia. Kayu bengkirai dan moulding diminati Australia, Malaysia, dan Cina.

Pembangunan Banjarbaru terus melaju. Untuk pengembangan ekonomi, pemerintah kota menyediakan kawasan industri di Liang Anggang, Kecamatan Landasan Ulin yang terbuka bagi pemodal dalam maupun luar negeri. Di tempat yang sama akan dibangun pusat grosir dan peti kemas. Kini pemerintah kota membuka jalan lingkar selatan, Jalan Trikora, yang menyambung wilayah Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin. Jalan ini akan menjadi akses utama menuju pelabuhan sungai Trisakti di Banjarmasin.

Hingga kini wilayah yang pendapatan asli daerah tahun 2002 sebesar Rp 4,2 miliar dan PDRB per kapita Rp 5,2 juta, belum mempunyai hotel yang mampu memberi pelayanan memadai. Padahal, dari Bandara Syamsuddin Noor di Kecamatan Landasan Ulin setiap hari datang dan pergi sekitar 10 pesawat terbang. Tahun 2002 penumpang yang datang sebanyak 238.504 orang dan yang pergi 245.635 orang.

Bagi Banjarbaru, yang bertekad menjadikan sektor jasa perdagangan sebagai salah satu pilar perekonomian, keberadaan akomodasi yang sepadan kiranya perlu mendapat perhatian. Akankah Banjarbaru hanya dijadikan tempat lewat ataukah Banjarbaru juga bisa dijadikan tempat melewatkan hari? Banjarbaru sendiri yang bisa menjawab.

FX Sriyadi Adhisumarta/Litbang KompasKota Banjarbaru

“MAU buka toko di Banjarbaru?” Kata-kata yang dilontarkan seorang rekan ternyata ada benarnya. Bangunan sepanjang Jalan Achmad Yani dari Bandara Syamsuddin Noor ke jantung pemerintahan Kota Banjarbaru hampir semuanya dijadikan tempat usaha atau perkantoran. Ruko, rumah yang merangkap toko, tumbuh di kiri dan kanan jalan sepanjang 12 kilometer tersebut.

SANGAT terasa Banjarbaru sedang menggeliat. Gairah membangun tidak hanya terlihat di jantung ibu kota. Sebanyak 24 pengembang perumahan ikut berkiprah di tiga kecamatan yang ada. Dari tangan-tangan mereka bermunculan ruko, rumah-rumah mewah, sedang, maupun yang sangat sederhana.

Citra Banjarbaru sebagai tempat permukiman yang ideal sudah lama diketahui. Dari wilayah 37.130 hektar, 353 hektar berbentuk rawa-rawa, selebihnya tanah padat yang cocok untuk perkantoran dan perumahan. Hingga tahun 2002 areal yang terpakai untuk bangunan dan halaman 8.005 hektar.

Data di atas pasti tidak bisa dipegang lagi. Mengingat, dari kurun waktu Mei 2002 hingga Juli 2003 para pengembang mengajukan 598 Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Di luar mereka, dari Januari sampai Juli 2003 ada 222 IMB yang diajukan penduduk. Berdasarkan data dinas tata kota Banjarbaru sampai bulan Juni 2003 terdapat 22.500 rumah hunian.

Pertumbuhan perumahan per tahun dari tahun 2000 hingga pertengahan 2003 sebesar 6,1 persen. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan sensus tahun 2000 tercatat sekitar 123.979 jiwa yang berdomisili di Banjarbaru. Sementara dari hasil Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B) pertengahan tahun 2003 meningkat menjadi 140.150 jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun 3,8 persen. Tidak salah kalau Banjarbaru diberi predikat Kota Permukiman.

Keberadaan Fakultas Kedokteran, Perikanan, Pertanian, Teknik, Kehutanan, Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) di Banjarbaru menjadi daya tarik. Unlam sendiri pusatnya di Banjarmasin. Perguruan tinggi swasta pun bermunculan. Paling tidak terdapat sembilan perguruan tinggi swasta ikut memberikan andil sebutan Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan.

Jaraknya yang hanya 35 kilometer dari ibu kota Provinsi Kalsel, Banjarmasin, dan dua kilometer dari kota permata Martapura, yang namanya mendunia membuat Banjarbaru menjadi sangat strategis. Bahkan jauh sebelumnya saat almarhum dr Murdjani menjabat Gubernur Kalimantan (Kalimantan masih satu provinsi) tahun 1950-1953, sudah mengimpikan wilayah ini sebagai ibu kota Kalimantan.

Kini, wajah wilayah ini mulai menunjukkan daya tariknya. Ketika matahari tidak lagi menyinari bumi, cahaya lampu berwarna-warni menerangi lingkungan sekitarnya. Lampu dengan pesan-pesan sponsor dari aneka produk menjadi bukti bahwa pengusaha sudah menjadikan kota di antara Banjarmasin dan Martapura ini sebagai ajang perdagangan.

Lajunya perkembangan wilayah ini mempunyai efek seperti bola salju. Bertambahnya permukiman dan penduduk memperbesar permintan barang-barang kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekunder. Jasa konstruksi dan keuangan jelas ikut memegang peranan penting dalam membangun Banjarbaru.

Meningkatnya permintaan akan barang kebutuhan dan jasa membuka peluang tumbuh unit usaha. Kalau tahun 2000 terdapat 365 unit usaha, tahun berikutnya 373 buah, tahun 2002 meningkat 16 persen menjadi 432 unit usaha. Pertambahan ini membuka lapangan kerja. Tahun 2000 tenaga kerja yang terserap 3.950 orang, kemudian 4.033 orang, dan tahun 2002 tercatat 4.469 orang.

Perdagangan besar dan eceran merupakan penyumbang terbesar perekonomian Banjarbaru. Selama tahun 2000-2002 kontribusinya melebihi 21 persen total perekonomian. Tahun 2002 tercatat Rp 146 miliar, sekitar 21 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banjarbaru. Sektor bangunan menyumbang 13,8 persen.

Gerak roda perdagangan wilayah ini juga berhubungan erat dengan komoditas hasil industri pengolahan. Komoditas unggulan industri olahan di Banjarbaru antara lain: rotan, kayu, marmer, minuman ringan, biskuit, dan barang logam. Investasi yang ditanam tahun 2002 Rp 32 miliar dengan nilai produksi Rp 112 miliar. Bahan baku komoditas tersebut sebagian besar didatangkan dari Kalimantan Tengah seperti rotan dan kayu. Sedangkan marmer dari Kabupaten Tapin.

Hasil industri olahan tersebut laku dijual di dalam negeri dan diminati pasar luar negeri. Komoditas yang menembus pasar mancanegara adalah rotan dalam bentuk lampit (semacam tikar), marmer, moulding, dan kayu bengkirai. Negara-negara tujuan ekspor lampit adalah Jepang, Korea, Belanda, Malysia, Taiwan. Sedangkan marmer dikirim ke Australia dan Malysia. Kayu bengkirai dan moulding diminati Australia, Malaysia, dan Cina.

Pembangunan Banjarbaru terus melaju. Untuk pengembangan ekonomi, pemerintah kota menyediakan kawasan industri di Liang Anggang, Kecamatan Landasan Ulin yang terbuka bagi pemodal dalam maupun luar negeri. Di tempat yang sama akan dibangun pusat grosir dan peti kemas. Kini pemerintah kota membuka jalan lingkar selatan, Jalan Trikora, yang menyambung wilayah Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin. Jalan ini akan menjadi akses utama menuju pelabuhan sungai Trisakti di Banjarmasin.

Hingga kini wilayah yang pendapatan asli daerah tahun 2002 sebesar Rp 4,2 miliar dan PDRB per kapita Rp 5,2 juta, belum mempunyai hotel yang mampu memberi pelayanan memadai. Padahal, dari Bandara Syamsuddin Noor di Kecamatan Landasan Ulin setiap hari datang dan pergi sekitar 10 pesawat terbang. Tahun 2002 penumpang yang datang sebanyak 238.504 orang dan yang pergi 245.635 orang.

Bagi Banjarbaru, yang bertekad menjadikan sektor jasa perdagangan sebagai salah satu pilar perekonomian, keberadaan akomodasi yang sepadan kiranya perlu mendapat perhatian. Akankah Banjarbaru hanya dijadikan tempat lewat ataukah Banjarbaru juga bisa dijadikan tempat melewatkan hari? Banjarbaru sendiri yang bisa menjawab.

FX Sriyadi Adhisumarta/Litbang Kompas

Diambil dari http://kompas.com/kompas-cetak/0309/11/otonomi/552181.htm

“Wahai anak cucu Adam,
engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari yang terhitung.
Bila berlalu satu hari berarti hilanglah sebagian darimu.
Jika hilang sebagian darimu maka bertambah dekatlah saat
kematianmu.
Kalau engkau sudah mengetahui hal itu Maka segeralah
berbuat!
(Beramal, bersiap dan berbekallah).”
( Hasan al-Bashri )

-Hari Ahad kemarin mungkin hari yang menyenangkan.
Bukankah hari libur selalu menjadi hari untuk sejenak
lepas dari rentetan deadline pekerjaan.

Hari Ahad kemarin bisa jadi hari yang indah, karena
biasanya kita bebas bersantai di rumah tanpa harus
menikmati kemacetan jalan, bercengkrama dengan keluarga
atau pergi jalan-jalan untuk sebentar melupakan jerat
rutinitas kantor.

Oh iya, hari Ahad kemarin, hari yang paling
ditunggu-tunggu oleh Eci, teman kantor saya. Karena hari
itu ia melangsungkan pernikahan. Hari yang paling
ditunggunya. Hari paling berbahagia dalam kehidupannya.

Tapi ternyata hari Ahad kemarin adalah hari yang paling
menakutkan, bagi saudara kita di bumi Aceh sana. Ternyata
hari Ahad kemarin adalah hari paling kelam yang
meninggalkan trauma kepedihan bagi hampir semua penduduk
Serambi Mekkah. Hari itu tak sedikitpun mereka kira akan
menjadi hari sepenuh duka dan luka.

Pagi, di hari itu, semuanya masih terasa sama. Arakan awan
putih, pohon hijau melambai, ibu-ibu pergi ke pasar,
anak-anak bermain ceria, bahkan di sebuah lapangan tengah
kota sebuah perlombaan lari tengah di gelar, udara bertiup
sejuk. Sampai tiba saat itu. Dalam sekejap semua tak lagi
sama. Ujud tanah rencong terkoyak hampir sempurna.

Dan bapak itu berkisah, rumahnya berada di pesisir pantai.
Ia tengah di dalam rumah, ketika tiba-tiba saja hingar
gemuruh singgah di telinga. Bergegas ia ke luar, dan
sejenak ia seperti berada dalam mimpi. Sejauh mata
memandang, ia tak melihat setetes pun air laut yang
biasanya membiru. Ia bersama yang lainnya menuju ke arah
pantai. Mereka tertegun penuh decak kagum. Ternyata laut
tak hendak berbagi suka. Air yang surut itu datang.
Bergulung-gulung. Tinggi sekali. Ombaknya menjelma tangan
yang rindu dan memberikan songsongan kepada kekasihnya. Ia
berlari. Sempat ia melihat para tetangganya tenggelam
tersapu air yang datang tiba-tiba. Dan ia pingsan. Ketika
siuman, sebuah kenyataan membuat hatinya memar. Puluhan
ribu nyawa saudaranya terenggut air laut yang juga
mengerjarnya tanpa henti.

***

Saya tidak sendirian tercenung di depan televisi. Ruang
tengah itu hening. Kami tak mampu berkata-kata. Betapa
tidak, puluhan jenazah balita berjejer terbujur diam di
antara ratusan jenazah dewasa lainnya. Hampir semua
berbalut kain yang ujudnya sudah tak layak pakai. Ah,
anak-anak polos itu. Ribuan jenazah lainnya masih
berserak, di antara tumpukan sampah kayu, di tengah jalan,
di mana-mana. Betapa mudah bagi Allah merenggut puluhan
ribu nyawa dalam waktu satu jeda. Sangat mudah.

“Duh Allah, sedemikian bebalkah saya, hingga harus
diingatkan dengan tsunami sedahsyat ini,” ucapan kakak
ipar terdengar samar. Saya diam. Mendengar ucapannya, saya
tersenyum miris. Yah, betapa bebal jiwa ini, hingga Allah
harus menegur dengan begitu keras. Sudah membatu seperti
apa hati ini, hingga untuk menyentuhnya Allah harus
menggeserkan dasar lautan dan terjadilah gempa disertai
tsunami.

“Ya Ghaffar, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa
atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau
bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Allah,
janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup
kami memikulnya. Beri maaflah kami, Ampunilah kami.”

***

Di ujung hening, ada yang di gumamkan ke angkasa
diam-diam. Malu-malu. Karena betapa banyak karat dosa yang
telah dilakukan.

Wahai Yang Maha Lembut pengasihnya, perkenankan kami,
menengadah menjemput cahaya keagungan Mu, meski Engkau tau
betapa legamnya jiwa-jiwa ini.

Subhanaka Ya Allah, kami tahu betapa hati-hati ini telah
ditumbuhi banyak ilalang tinggi bahkan berduri. Kami
teramat sering melupakan Engkau dan mencintai dunia. Kami
sembah kesenangan, kami agungkan kekayaan. Kami lupa
berbagi. Kami lupa memberi.

Yang Maha Asih dan Sayang, perkenankan kami kembali
belajar. Belajar saling mencinta. Belajar menelagakan
kembali gemericik ukhuwah di antara kami.

Sahabat, bersyukurlah, kita masih diizinkan Sang Pencipta,
untuk memasuki pagi dan petang. Bersyukurlah jika kita
masih diperkenankan melihat mentari tahun baru. Bersyukur
masih ada porsi usia. Itu berarti bahwa kita masih diberi
jeda untuk bertaubat dan berbuat yang terbaik. Jangan
pernah menyia-nyiakannya.

***

Mari hantar sepenuh doa untuk semua saudara kita yang
terkena bencana. Semoga Allah menerima semua yang pergi
menghadap-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan
keikhlasan dan kesabaran. Semoga setiap kita diberikan
kemampuan untuk mengambil pelajaran dari bencana kemarin.

***

Diambil dari : http://groups.yahoo.com/group/bumiayu/message/1378

Oleh : Laila Nagib

Alammu indah, kekayaan melimpah di perut bumi
Anugerah Tuhan tak terbilang di seantero negeri
Namun deraan duka dan nestapa tak kunjung henti
Tikaman dan hantaman dari segala penjuru datang bertubi

Atas nama Tuhan dan persatuan negerimu diperebutkan
Kekuasaan dan kekayaan menjadi ujung keserakahan
Masa depan anak bangsa tlah mereka pertaruhkan
Ketenangan dan kebahagiaan makin jauh dari kenyataan

Di penghujung tahun tanpa kepastian masa depan
Misteri alam yang mengejutkan telah mengoyak setetes harapan
Kehendak Yang Maha Perkasa adalah perintah tak terelakkan
Hempasan jariMu di ujung Banda meluluhlantakkan sebagian daratan

Gelombang tsunami menggulung semua yang diterjang
Onggokan mayat yang membusuk, lumpur yang menggenang
Puing-puing yang berserakan, pohon-pohon yang tumbang
Kekacauan membuat kita limbung , terpana dan tercengang

Oh Tuhan yang Maha Pengasih
Kau rengkuh mereka dengan caraMu yang sulit dipahami
Kau dekap mereka ‘tuk menambah barisan syuhada
Namun ketentuan Mu menyisakan kepedihan, kepapaan tanpa daya

Kurasakan murkaMU dalam kedahsyatan musibah tak terperi
Ratapan yang memilukan menggoncang setiap dada insani
Menggugah kebekuan hati yang terlena godaan duniawi
Gebrakan kemanusiaan tak berdaya menembus kelemahan birokrasi

Ya Allah yang Maha Penyayang
Bukalah pintu tobat dan ampunan dari setiap kelalaian
Kembalikan harga diri negeri yang terkoyak dan terabaikan
Tolonglah anak bangsa yang nyaris dilanda keputusasaan

Berilah mereka kesempatan menyongsong cerahnya sang surya
Gantilah airmata duka dengan senyum bahagia
Tanamkan hikmah dibalik duka berkepanjangan
Taburkan rahmat Mu dalam setiap langkah kami ke depan

Amin ya robbal alamin

Jakarta, ujung tahun 2005

Diambil dari http://www.ppk.lipi.go.id/informasi/berita/daerah_detil.asp?Vnomo=66


Kategori

Flickr Photos

RSS TEMPO INTERAKTIF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 15,422 hits

Laman

Januari 2005
S S R K J S M
« Sep   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31