Bumiayu, Kampung halamanku!

Berbakti kepada Ibu Bapak

Posted on: 23 Maret 2005

Bismillahirrohmaanirohim
Alhamdulillahirobbil ‘aalamin
Allohumma Sholli ‘ala Muhammadin wasallim

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
(QS. 4:36)

Qola Rosulullah saw:
‘Inna likulli syajarotint samrotun wa tsamrotul qolbi al waladu’.
yang artinya:
‘Sesungguhnya bagi tiap-tiap pohon itu ada buahnya, dan buah hati adalah anak’.
(HR Ibnu Umar)

Sungguh suatu kebahagiaan bagi seorang yang telah menikah jika mendapatkan titipan anak. Ketika kandungan mulai terdeteksi sebagai janin maka do’a-do’a keselamatan pun diluncurkan demi kelancaran kelahiran dan kecemerlangan masa depan si calon anak. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut kelahirannya, bahkan terkadang sering merelakan kesempatan bertemu dengan teman sejawat di ajang munas ;). Semuanya dilakukan demi sang jabang bayi, yang belum tentu kehadirannya akan membawa kebahagiaan bagi orangtua di masa dewasanya kelak. Tapi sambutan diisi dengan pengorbanan senantiasa meluncur tak pernah habis, bagaikan air sungai yang mengalir tak pernah henti, sesejuk air mata yang tak pernah mengering berhenti, bagaikan pelangi yang senantiasa menyinari (naon deuih!). Itulah kebenaran dari hadits di atas, anak adalah buah hati orangtua. Hati adalah laksamana dari tubuh, maka segala daya tubuhpun dioptimalkan sang buah hati.

Seorang anak, belum tentu akan menyadari pengorbanan yang diberikan orangtuanya. Mungkin bukan pengorbanan istilahnya, tapi kasih sayang. Seorang anak banyak yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri: mendapatkan posisi terhormat di hadapan teman-temannya, mendapatkan nilai tinggi dalam pelajarannya, mendapat karir bagus dalam pekerjaannya, mendapatkan pasangan hidup menurut penilaiannya, mengasuh anak sesuai pola pengasuhannya, bahkan mungkin memperlakukan orangtua sesuai nilai yang dianutnya! (anaknya).

Bagi para aktivis yang tergabung dalam organisasi pergerakan keislaman, entah itu di kampus, masjid, organisasi politik, organisasi masyarakat, organisasi dakwah, dlsb, keinginan yang terbesar ialah berjihad. Terkadang, atau mungkin sering, keinginan untuk berjuang di jalanNya (yang sering disalah tafsirkan itu) mengalahkan kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orangtuanya.

Qola Rosulullah saw:
‘Afdlolul a’maali ash sholaatu liwaqtihaa wa birrul waalidaini wal jihaadu fii sabilillaah’
yang artinya:
‘Seutama-utamanya amal ialah sholat pada waktunya dan berbuat baik kepada ibu-bapak dan jihad fii sabilillah’
(HR Annas)

Maka jelaslah menurut hadits di atas bahwa peringkat amal yang utama ialah:
1. Sholat pada waktunya
2. Berbuat kepada ibu-bapak
3. Jihad fii sabilillaah

Jadi kalau ada seorang aktivis dakwah yang meninggalkan orangtuanya untuk alasan ‘berjihad’, agaknya kurang pas dengan hadits tsb.

Qola Rosulullah saw
Akbarul kabaa’iri al isyroku billahi wa qotlun nafsi wa ‘uququl walidaini wa syahaadatidz zuuri
yang artinya:
‘Paling besar-besarnya dosa besar ialah syirik kepada Alloh dan membunuh manusia, dan menyakiti hati ibu bapak dan sumpah palsu’.
(HR Annas)

Menyakiti hati kedua orangtua adalah salah satu dosa besar, bahkan menduduki peringkat ketiga dosa-dosa besar dari hadits tsb.Maka tentunya kita harus berhati-hati menyikapi keberadaan orangtua kita.

Ada suatu cerita

Pada zaman Rosulullah saw, ada seorang muda bernama Al Qomah. dia sangat kuat dalam perjuangannya, hingga oleh sahabat Annas disebutkan sebagai “Syadidil Ijtihad – ‘Adhimush Shodaqoh”

Pada suatu ketika ia sakit keras yang tak ada harapan untuk sembuh. Istrinya lalu mendatangi Rosulullah saw. Diutuslah kemudian empat sahabat Nabi saw untuk mengetahui keadaan Al Qomah, yakni:
1. Bilal
2. Ali
3. Salman Al Farisi
4. Amar

Oleh para sahabt tsb, Al Qomah langsung diajarkan kalimah tauhid:
Laa ilaa ha illalloh

Tetapi Al Qomah lidahnya tak bisa mengucapkan kalimah tsb, walaupun telah dicoba berulangkali.

Keempat sahabat kemudian menghadap Rosululloh saw dan menyampaikan situasi tersebut.

Rosululloh lalu menanyakan apakah Al Qomah masih memiliki ibu bapak? Bilal menjawab bahwa ia masih memiliki seorang ibu yang telah berusia lanjut.

Bilal lalu diperintahkan menyampaikan perilah Al Qomah kepada ibunya, maka berangkatlah ia. Sesampainya di tempat Bilal menyampaikan salam dari Rosulullah saw lalu menyampaikan pesan beliau.

Singkat cerita, ibu Al Qomah lalu menghadap Rosulullah saw dan menceritakan bahwa Al Qomah lebih mementingkan istrinya daripada ibunya.

Rosululloh saw lalu memerintahlan bilal untuk mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Al Qomah.

Ibu Al Qomah yang masih mencintainya menangis melarang anaknya dibakar.

Rosululloh saw bersabda bahwa siksaan Alloh lebih dahsyat dan lebih kekal kepada orang yang durhaka kepada ibunya. Jika ibu Al Qomah mau memaafkan dan rido pada anaknya maka Alloh akan memaafkan dan meridloinya. Tidak ada manfaatnya segala amal dan shodaqoh Al qomah selama masih ada dosa durhaka kepada ibunya.

Maka ibu Al Qomah memaafkan dan memberikan ridlo kepada anaknya.

Kemudian diutuslah bilal untuk melihat Al Qomah, apakah ia sudah bisa mengucapkan kalimah tauhid? Bilal pun berangkat. Setalah sampai, ia mendengarkan Al Qomah bisa mengucapkan kalimah tauhid: Laa ilaa ha illalloh dengan lancar.

Demikianlah kemudian, Rosululloh saw datang menjenguk mayat Al Qomah, memerintahkan utnuk memandikan dan mengkafaninya lalu disholatkan.

Rosululloh saw lalu berdiri di tepi kibirnya dan bersabda:

“‘Wahai kaum Muhajirin dan kaum Anshor, barangsiapa yang melbihkan istrinya dan mengalahkan kepada ibunya, maka tentulah lakant Alloh kepadanya, dan tak akan diterima daripadanya amal-amal ayng wajib maupun sunnat”.

Demikianlah cerita tentang Al Qobah, seorang anak yang penuh militansi dalam perjuangan dan shodaqoh, namun lengah memperhatikan ibunya.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua sebagai seorang anak agar bisa bersyukur kepada orang tua.

Alhamdulillaahirobbil ‘aalaimin

Wallohu a’lam bishshowab

~ 22/03/05

Ucup Al-Bandungi
seorang pengamat dan penikmat kehidupan

Diambil dari milis daarut-tauhiid http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/message/22567

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Flickr Photos

RSS TEMPO INTERAKTIF

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 15,422 hits

Laman

Maret 2005
S S R K J S M
« Jan   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: